https://asset.kompas.com/crops/esDa662XaZbB6CZgNpsP6IBPaG0=/0x0:0x0/750x500/data/photo/2011/05/09/2024533p.jpg

Gunarso S. Margono (Thung Seng Hok) dilahirkan di Jakarta 15 Maret 1940 (80 Tahun), dari pasangan orang tua yang berbisnis toko kelontong di Pasar Senen Jakarta. Hok panggilan waktu kecil Gunarso S. Margono, merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara, menyelesaikan sekolah di Jakarta sembari membantu orang tuanya menjual barang-barang kelontong.

Tahun 1962 Hok yang kala itu berusia 22 tahun melangsungkan pernikahan dengan gadis pilihannya Widyawaty.

Rupa-rupanya pernikahan dari dua keluarga berlatar belakang pedagang.

Hok banyak bergaul dengan teman-temannya di lingkungan pasar, dari latar belakang yang beragam itulah telah membentuk pribadinya.

Berdagang Tekstil

Setelah menamatkan sekolah Gunarso muda membantu berdagang tekstil abang-nya paling besar yang usianya terpaut dua puluh tahun.

Ada pengalaman tidak pernah terlupakan, seperti yang dikisahkan istrinya Widyawaty (Oey Hoat Nio), bahwa suaminya pernah berantem dengan preman yang akan merampas dagangan kakaknya di atas truk, darah mudanya naik karena komitmen untuk mengamankan dagangan abang-nya.

Selama lima tahun ia membantu berdagang dan banyak belajar berdagang dari abang-nya. Karena abang-nya merasa sudah cukup mampu untuk mandiri, maka kakaknya memberikan modal untuk dikembangkan sendiri. Lalu Gunarso merintis toko baru di Tanah Abang dengan mengontrak kios, itu terjadi ketika Gunarso berumur 30 tahun.

Toko yang dirintisnya berkembang pesat, sehingga menjadi toko besar sampai harus impor tekstil dalam partai yang besar.

Mengenai tips sukses bisnis tekstil yang pertama adalah ketekunan, toko Gunarso terkenal tidak pernah tutup, toko lain tutup tetapi toko-nya tetap buka, walaupun pasar sepi sekalipun.

Yang kedua sikap hemat yang ber-implikasi pada keputusan mengambil margin keuntungan tipis.

Ketiga adalah kejujuran kepada pembeli sehingga pelanggan percaya pada dagangannya. Karena ketiga hal inilah para pelanggan memberikan sebutan toko-nya Gunarso selalu buka, harganya murah dan dagangan-nya berkualitas.

Faktor trust menjadi yang utama, dan Gunarso tidak pernah memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan besar.

Namun bisnis tekstil yang ditekuninya tidak berjalan mulus karena kejujuran Gunarso telah dimanfaatkan beberapa pelanggan-nya untuk menipu dengan mengambil barang dagangan-nya dan tidak membayar secara penuh.

Baca Juga : Tips Bisnis Properti dari Pemilik Perumahan Greenstone

Bisnis Hasil Bumi

Gunarso kapok berdagang tekstil yang penuh penipuan di Tanah Abang, akhirnya mencoba peruntungan di bidang hasil bumi. Karena modal terbatas Gunarso menyekat ruko ayahnya menjadi dua.

Hasil bumi kacang tanah, kacang hijau, dan gandum ia datangkan dari daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat dan dijual kepada para pedagang di sekitar Pasar Senen. Bisnis hasil bumi ini berkembang cepat tidak saja di salurkan di daerah Jakarta dan pulau Jawa tetapi sampai antar pulau.

Bisnis Beras

Masalah baru muncul ketika Pasar Senen di-renovasi menjadi Proyek Senen yang mengakibatkan Gunarso kesulitan untuk bongkar muat barang hasil bumi, karena tempat menjadi sempit. Kembali ia harus memeras otak dan naluri bisnisnya ter-cambuk dan bukan Gunarso kalau menyerah, dia mencoba tantangan baru di bisnis beras di daerah Cipinang Jakarta.

Berkat tangan dingin-nya pria yang dilahirkan ber-shio naga itu, mengembangkan bisnis melesat cepat dengan tetap mempertahankan tiga prinsip yang terbukti efektif, baik di bisnis tekstil dan hasil bumi.

Beras dia datangkan dari Karawang dan di distribusi ke seluruh Indonesia, sampai mempunyai tempat penggilingan beras sendiri di Cikarang.

Namun ternyata bisnis beras tidak membawa ketenangan karena risiko yang besar. Dan sering ditipu para pedagang yang membayar dengan cek kosong, sampai berurusan ke polisi dan pengacara.

Bisnis Properti

Bermitra dengan INKUD menjadi titik awal dari Gunarso untuk berbisnis properti yang menjadi pelabuhan terakhir baginya. Perumahan di Lampung berhasil di diserap pasar .

Ini yang membuat Gunarso berani membeli tanah di daerah Bekasi Selatan dan menjualnya ke developer kenamaan PT. Metropolitan. Melihat kiprah perusahaan pengembang tersebut yang sukses membangun perumahan, menjadi pemicu Gunarso untuk mendirikan developer sendiri.

PT. Gapuraprima ia dirikan tahun 1989, dan mengembangkan perumahan di Bekasi Timur yang diberi nama Pondok Hijau Permai, dalam waktu tidak lama 800 unit rumah sold out. Perumahan besutan pertama Gunarso yang sukses, membuat ia ketagihan untuk mengembangkan proyek baru pada tahun 1993.

Tahun 1997 – 1998 terjadi krisis ekonomi, Gunarso tidak mengembangkan proyek baru, yang ia lakukan adalah memasarkan proyek yang sudah.

Pasca krisis, tangan Gunarso tidak bisa diam maka pada tahun 1998 kembali membebaskan lahan dan membuka proyek Perumahan Taman Raya Cilegon, disusul tahun 1999 Perumahan Kayu Putih Pulo Mas dan Perumahan Metro Cilegon. Ia membuka rahasia dapur bisnis-nya kenapa dengan cepat bisa mengembangkan proyek baru yaitu ketika proyek satu selesai maka keuntungannya untuk membuka proyek berikutnya, sehingga terus berkembang seperti karambol.

Bagaikan Naga yang Terus Bergerak

Gunarso bagaikan naga yang terus bergerak, tidak hanya mengembangkan perumahan, tetapi juga pusat perbelanjaan, apartemen, perkantoran, hote.

Diawali dengan Bekasi Trade Center, Serpong Town Square, The Bellezza Permata Hijau, Bellagio Residence & Bellagio Mansion Kuningan, tak heran di kalangan industri properti ia dijuluki “Sang Penggebrak”.

Berkat produktivitas-nya maka pada tahun 2005 Majalah Property, menganugerahkan gelar bergengsi kepada PT. Gapuraprima sebagai Pengembang Proyek Properti Skala Besar Pasca Krisis.

Setelah menerima penghargaan tersebut seolah-olah ada kekuatan baru pria ber-hobi golf tersebut untuk tancap gas melahirkan proyek-proyek unggulan.

Proyek-proyek tersebut antara lain : Perumahan Emerald Spring Bekasi, Spring Garden Residence Bekasi, GP Mall Bekasi, Montblanc Apartment Bekasi, Perumahan Garden Ville Bogor, Perumahan Greenleaf Residence Tangerang, Anyer Palazo Villa, Villa Ubud Anyer, Kebagusan City Apartment, Belmont Residence Apartment, Bailey’s City Hotel & Apartment Ciputat, Bellevue Place Apartment Jakarta, Hotel Bellevue Jakarta, GP Plaza Apartment, dan Bhuvana Hotel & Apartment Ciawi.

Gunarso S. Margono yang biasa disapa Pak Gun, menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Siloam Semanggi Jakarta pada Kamis, 17 Juni 2020 genap berusia 80 tahun.

Di mata karyawan Gapuraprima Group yang sudah menjadi perusahaan terbuka sejak 2007, adalah pribadi yang bersahaja dan rendah hati.

Sumber : kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here